·
Pengertian Shalat Sunnah
Salat sunah atau salat nawafil (jamak: nafilah) adalah salat yang dianjurkan untuk dilaksanakan namun tidak
diwajibkan sehingga tidak berdosa bila ditinggalkan dengan kata lain apabila
dilakukan dengan baik dan benar serta penuh ke ikhlasan akan tampak hikmah dan rahmat dari Allah
SWT yang begitu
indah. Salat sunah menurut hukumnya terdiri atas dua golongan yakni:
1.
Muakad, adalah
salat sunah yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti salat dua hari raya, salat sunah
witir dan salat sunah thawaf.
2.
Ghairu Muakad,
adalah salat sunah yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti salat
sunah Rawatib dan salat sunah yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan, seperti salat kusuf/khusuf hanya
dikerjakan ketika terjadi gerhana).
·
Pengertian Shalat Sunnah Tasbih, Manfaat, serta Tata Caranya
Shalat tasbih termasuk salah satu shalat sunat yang dianjurkan
oleh Nabi Muhammad SAW. Kalau bisa dilakukan tiap malam, seminggu sekali,
sebulan sekali, setahun sekali atau seumur hidup sekali. Shalat Tasbih dilakukan sebanyak 4
raka’at dengan sekali tasyahud, yaitu pada raka’at yang keempat lalu
salam (jika dilakukan pagi hari). Bisa juga dilakukan dengan cara dua
raka’at-dua raka’at (jika dilakukan malam hari), Sesuai yang diterangkan oleh
Rasulullah SAW: “Shalat malam itu, dua-dua” (HR. Ahmad, Bukhari dan
Muslim) di mana setiap dua raka’at membaca tasyahud kemudian salam.Waktu
shalat tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari,
sebagaimana dalam riwayat ‘Abdullah bin Amr. Tetapi dalam riwayat Ikrimah
yang mursal diterangkan bahwa boleh malam hari dan boleh siang
hari. Wallâhu A’lam.
Anjuran shalat tasbih ini sebagaimana yang disabdakan oleh
Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist dari Ibnu ‘Abbas:
عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ: أَنََّ رَسُوْلُ اللهِ صَلََّى الله ُعَلَيْهِ
وَسَلََّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبْ: يَا عَبَّاسُ
يَا عَمَّاهْ !! أَلاَ أُعْطِيْكَ؟ أَلاَ أُمْنِحُكَ؟ أَلاَ أُحِبُّكَ؟
أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشَرَ خِصَالٍ, إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ
لَكَ ذَنْبِكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ, قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ,
خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ, صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ, سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ.
عَشَرَ خِصَالٍ, أَنْ تُصَلِّيْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ
فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً, فَإِذَا فَرَغْتَ
مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ, وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ
اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاََّّ اللهِ وَالله ُأَكْبَرُ
خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً, ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ
عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا,
ثُمَّ تَهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا, ثُمَّ
تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَسْجُدُ
فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا,
فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي
أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ, إِذَا اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيْهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ
مَرَّةً فَافْعَلْ, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً,
فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ
فَفِي كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمْرِكَ
مَرَّةً.
Artinya:
“Dari Ibnu ‘Abbâs, bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi
wa sallam bersabda kepada ‘Abbâs bin ‘Abdul Muththalib, ‘Wahai ‘Abbas, wahai
pamanku, maukah kamu apabila aku beri? Bolehkah sekiranya aku beri petunjuk
padamu? Tidakkah kau mau? saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung
10 keutamaan, yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu dari
awalnya hingga akhirnya, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja
maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun
yang nampak. Semuanya
10 macam. Kamu shalat 4 rakaat. Setiap rakaat kamu membaca Al-Fatihah dan satu
surah. Jika telah selesai, maka bacalah Subhanallâhi wal hamdulillâhi wa lâ
ilâha illallâh wallahu akbar sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian kamu
ruku’ lalu bacalah kalimat itu di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun
dari ruku’ (I’tidal) baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi
sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali,
kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud
sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali
setiap rakaat. Lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Lakukanlah
setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan, kalau tidak mampu setiap
bulan, kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah
sekali dalam seumur hidupmu." (HR. Abu Daud no. 1297)
Shalat
sunat tasbih semua riwayat sepakat dengan empat rokaat, jika pada siang hari
dengan satu kali salam (langsung niat empat rakaat), sedang di malam hari dua
rokaat-dua rokaat dengan dua kali salam (dua kali shalat dengan masing-masing 2
rakaat) dengan tasbih sebanyak 75 kali tiap raka’atnya, jadi keseluruhan bacaan
tasbih dalam shalat tasbih 4 rokaat tersebut 300 kali tasbih. Kata Syaikh Ali
al-Khawwash, ‘Sebaiknya shalat tasbih dilakukan sebelum shalat hajat, karena
shalat tasbih ini menghapus dosa-dosa, dengan demikian menjadi sebab
terkabulnya hajat’
Niat untuk shalat tasbih yang
dilakukan dengan dua kali salam (2 rakaat) :
أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ
رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Sedang untuk yang satu kali salam (4 rakaat) sebagai berikut
:
أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ
أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Lafadz ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap raka’at
dengan perincian sebagai berikut.
·
Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah
sebelum ruku sebanyak 15 kali,
·
Ketika ruku’ sesudah membaca do’a
ruku’ dibaca lagi sebanyak 10 kali,
·
Ketika bangun dari ruku’ sesudah
bacaan i’tidal dibaca 10 kali,
·
Ketika sujud pertama sesudah membaca
do’a sujud dibaca 10 kali,
·
Ketika duduk diantara dua sujud
sesudah membaca bacaan antara dua sujud dibaca 10 kali,
·
Ketika sujud yang kedua sesudah
membaca do’a sujud dibaca lagi sebanyak 10 kali,
·
Ketika bangun dari sujud yang kedua
sebelum bangkit (duduk istirahat) dibaca lagi sebanyak 10 kali. (Terus baru
berdiri tuk rakaat yang kedua).
Pada rokaat pertama setelah membaca surat al-fatihah dan
surat-surat pendek, membaca tasbih 15 kali, kemudian ketika ruku' (setelah
membaca do'a ruku') membaca tasbih 10 kali. Kemudian bangun dari ruku' (setelah
membaca do'anya) membaca tasbih 10 kali. Ketika sujud pertama (setelah membaca
do'a sujud) membaca tasbih 10 kali. Ketika duduk diantara dua sujud (setelah
membaca do'anya) membaca tasbih 10 kali. Ketika sujud kedua (setelah membaca
do'anya) membaca tasbih 10 kali. Ketika akan berdiri untuk rokaat yang kedua
duduk dulu (duduk istirahat) membaca tasbih 10 kali, baru berdiri untuk rokaat
yang kedua yang bacaannya sama dengan rokaat yang pertama.
Catatan: Disunahkan pada rokaat
pertama membaca surat At-Takatsur, rokaat kedua membaca surat Al-'Ashr, rokaat
ketiga membaca surat Al-Kafirun dan pada rokaat ke empat membaca surat Al-Ikhlash.
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
اللّهُمَّ اِنِّى
اَسْئَلُكَ تَوْفِيْقَ اَهْلِ اْلهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِ اْليَقِيْن
وَمُنَاصَحَةَ اَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزَمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجَدَّ
اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَ اَهْلِ
الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ اْلعِلْمِ حَتىَّ
اَخَافَكَ
اللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ
مَخَافَةً تُحْجِزُنِى عَنْ مَعَاصِيْكَ حَتَّى
اَعْمَلَ بِطَعَاتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُ بِهِ رِضَاكَ وَحَتَّى اُنَاصِحَكَ
فِى التَّوْبَةِ خَوْفًا مِنْكَ وَحَتَّى
اُخْلِصَ لَكَ
النَّصِيْحَةَ حُبًّالَكَ وَحَتَّى
اَتَوَكَّلَ
عَلَيْكَ فِى اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا
وَاُحْسِنَ الظَّنَّ بِكَ سُبْحَانَ خَالِقِ النُّوْرِ رَبَّنَا اَتْمِمْ
لَنَا نُوْرَنَا وَغْفِرْلَنَا اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر
بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّّاحِمِيْن.
· Bid’ah yang sering ditemukan dalam Shalat Tasbih
Untuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka saya
sertakan juga penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak
terjadi disekitar pelaksanaan shalat tasbih, di antaranya adalah:
1.
Mengkhususkan pelaksanaannya pada
malam Jum’at saja.
2.
Dilakukan secara berjama’ah terus
menerus.
3.
Diiringi dengan bacaan-bacaan
tertentu, baik sebelum maupun sesudah shalat.
4.
Tidak mau shalat kecuali bersama
imamnya, jamaahnya, atau tarekatnya.
5.
Tidak mau shalat kecuali di masjid
tertentu.
7.
Membawa binatang-binatang tertentu
untuk disembelih saat sebelum atau sesudah shalat tasbih, disertai dengan
keyakinan-keyakinan tertentu.






0 komentar:
Posting Komentar